Sabtu, 23 Mei 2009

Tentang Desa Sendangsari, Kecamatan Lasem, Kabupaten Rembang

A. SEJARAH SINGKAT DESA SENDANGASRI
Desa Sendangasri merupakan salah satu desa yang berada di Kecamatan Lasem, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah. Sendangasri terbentuk dari dua kata, yaitu sendang dan asri. Sendang artinya blumbang atau sumur lebar, sedangkan asri artinya lestari. Jadi, Sendangasri artinya sendang yang tidak pernah kering.
Desa Sendangasri terdiri dari tiga dukuh yaitu Bendan, Rangkah, dan Pelem. Pada zaman dahulu Dukuh Rangkah disebut sebagai kerajan karena dukuh ini ditempati oleh kepala desa. Di dukuh ini juga terdapat sendang, sehingga dukuh ini juga bertanggungjawab menyuplai air ke dukuh-dukuh lain yang ada di desa.
Seiring berjalannya waktu, istilah kerajan mulai luntur. Seperti halnya pemerintahan desa sekarang, dimana kepala desa dipilih secara langsung oleh warga dan calon kepala desa pun bisa dari berbagai dukuh. Lain halnya dengan sendang., fungsi sendang itu tetap tidak berubah dan airnya pun tidak pernah kering.
Menurut kepercayaan masyarakat setempat, siapa saja yang kerap kali mandi di sendang tersebut akan awet muda dan selamat dari bencana yang akan menimpa. Orang Sendangasri percaya, kalau ada seseorang yang bermain-main di sendang, berbuat keonaran, atau tidak menggunakan sendang dengan baik, maka orang itu akan “kesambet” (kerasukan makhluk halus). Konon, sendang ditunggu oleh seorang danyang (makhluk halus) yang bernama Mbah Jenggot atau Mbah So. Ada juga yang percaya bahwa sendang itu dulunya digunakan sebagai tempat mandi para bidadari atau dewa-dewa yang kebetulan singgah. Itulah yang menyebabkan mengapa sendang itu dikeramatkan sampai sekarang dan setiap malam satu Syura diadakan upacara selamatan.




B. KEADAAN GEOGRAFIS DESA SENDANGASRI
Desa Sendangasri termasuk daerah dataran rendah. Desa ini dihimpit oleh daerah pegunungan dan daerah perkotaan. Adapun batas-batas wilayahnya sebagai berikut.
Sebelah utara : Desa Sriombo,
Sebelah barat : Desa Tasiksono (pesisir),
Sebelah selatan : Desa Selopuro dan Desa Soditan,
Sebelah timur : Desa Kajar dan Pegunungan Kajar.
Desa Sendangasri adalah salah satu desa yang subur. Desa ini merupakan salah satu penghasil padi terbesar di Rembang. Pemanfaatan tanah Sendangasri antara lain sebagian besar tanahnya digunakan untuk lahan persawahan. Sisanya digunakan untuk perladangan dan perkampungan.
Desa Sendangasri terbagi menjadi tiga dusun, yaitu: (1) Bendan, (2) Rangkah, (3) Pelem. Masing-masing dusun mengutamakan padi sebagai tanaman pokok. Akan tetapi, sejarah nama dari dusun tersebut merupakan nama tanaman-tanaman, misalnya dinamakan Dusun Bendan karena di dusun ini terdapat pohon bendan, yaitu pohon yang serupa dengan tanaman sukun. Sedangkan nama Dusun Pelem terbentuk atas pertimbangan banyaknya pohon mangga di dusun tersebut. Walaupun curah hujan Desa Sendangasri tidak begitu besar, tetapi Desa Sendangasri tidak kekurangan air. Sungai yang mengalir berasal dari daerah Kajar (pegunungan) dan bermuara di pantai, juga termasuk dalam salah satu aset desa.

C. PENDUDUK
Penduduk Desa Sendangasri rata-rata masih berpengetahuan rendah. Sebagian besar penduduk menggantungkan hidupnya pada sektor pertanian. Antarwarga desa masih mempunyai sifat kekeluargaan yang masih kental. Hal ini dapat dilihat dari kebersamaan mereka bergotong royong, misalnya dalam membantu mendirikan rumah, renovasi rumah, pernikahan, dan lain-lain. Mereka tidak meminta imbalan atau balas jasa. Inilah yang biasa disebut orang dengan istilah “sambatan”.
1. Mata Pencaharian
a. Bertani, merupakan mata pencaharian yang utama, baik mempunyai sawah sendiri atau sebagai buruh.
b. Beternak, ada yang beternak sapi, kambing, ayam, maupun itik.
c. Berdagang. Profesi berdagang ini juga tidak terlepas dari sektor pertanian. Ada beberapa penduduk yang menjual hasil pertaniannya sendiri.
d. Pegawai negeri. Walaupun jumlahnya tidak begitu banyak, akan tetapi peran pegawai negeri di Sendangasri cukup signifikan.
e. Wiraswasta

2. Agama
Mayoritas penduduk Desa Sendangasri memeluk agama Islam. Setiap dusun mempunyai masjid utama. Masjid terbesar berada di Dusun Bendan. Selain agama Islam, penduduk Desa Sendangasri juga berada Budha, Hindu, dan Kristen. Bahkan masih ada aliran kejawen (animisme dan dinamisme). Keberagaman agama tersebut tidak membuat perpecahan diantara warga. Mereka menjunjung tinggi toleransi dan saling menghargai.

3. Pelapisan Sosial Masyarakat
Di desa ini orang-orang yang berpendidikan tinggi dan berpengetahuan luas mempunyai kedudukan tinggi dan dianggap sebagai orang yang serba tahu, sehingga pegawai negeri sangat dihormati dan disegani.

4. Pendidikan
Dilihat dari sudut pendidikan, penduduk Desa Sendangasri masih tergolong rendah. Hanya beberapa orang yang melanjutkan sekolahnya sampai perguruan tinggi. Kebanyakan mereka bersekolah sampai tingkat SMP. Kesadaran penduduk akan pentingnya pendidikan masih sangat kurang. Bahkan, adat menikah muda sudah menjadi kebiasaan umum.

5. Pola Perkampungan
Dahulu, pusat pemerintahan berada di Dusun Rangkah. Sekarang ini pola perkampungan yang memusat pada daerah pemerintahan sudah tidak berlaku, di mana ada lahan kosong di situ didirikan rumah. Namun, biasanya pembangunan rumah baru tidak jauh dari rumah orang tuanya. Jadi, ada kecenderungan satu keluarga mengelompok pada suatu daerah tertentu.

6. Upacara Adat
Walaupun jaman sudah berkembang, akan tetapi masyarakat Desa Sendangasri masih memiliki kepercayaan terhadap hal-hal mistis. Upacara-upacara yang ada antara lain.
a. Sedekah bumi
b. Selamatan di sendang
c. Malem Sanga (selamatan pada hari ke-29 di Bulan Ramadhan)
d. Suran (selamatan malam satu Syura)
e. Kirim do’a atau Ruwah
f. Sepasar (selamatan lima hari setelah menikah)
g. Selamatan weton (hari kelahiran)
h. Mitoni (selamatan akan tujuh bulan orang hamil)
i. Mrocoti (selamatan akan kelahiran)
j. Pupakan (selamatan ketika bayi berumur lima hari)
k. Selapan (selamatan ketika bayi berumur 36 hari)
l. Kematian (selamatan Sur Tanah adalah selamatan setelah mayit dikubur, tiga hari setelah meninggal dunia, tujuh hari setelah meninggal dunia, empat puluh hari setelah meninggal dunia, nyatus yaitu selamatan seratus hari setelah meninggal dunia, mendak siji yaitu selamatan dua ratus hari setelah meninggal dunia, mendak loro yaitu selamatan tiga ratus hari setelah meninggal dunia, nyewu yaitu selamatan seribu hari setelah meninggal dunia)

D. LATAR BELAKANG UPACARA SEDEKAH BUMI DI DESA SENDANGASRI
Awal mula diadakan sedekah bumi di Desa Sendangasri adalah untuk menyedekahi tanah yang ada di Desa Sendangasri sebagai wujud sukur kepada Tuhan YME. Saat itu pun masih sangat kental pengaruh Hindu kuno yang telah bercampur dengan Animisme dan Dinamisme. Masyarakat percaya, hasil panen yang sukses ditentukan oleh salah satu punden yang dihuni oleh Danyang Mbah Timbul. Punden ini terletak di tengah-tengah Desa Sendandasri. Danyang Mbah Timbul dipercaya sebagai danyang yang mbaureksa (memelihara) Desa Sendangasri dari segala bahaya yang mengancam. Maka, saat itu sedekah itu pun ditujukan untuk menghormati Danyang Mbah Timbul. Ada kepercayaan, apabila sedekah bumi tidak dilaksanakan, maka Danyang Mbah Timbul akan marah. Dikhawatirkan dengan kemarahan Mbah Timbul panen akan gagal dan berbagai bencana akan muncul seperti bencana banjir atau wabah penyakit.
Seiring dengan perkembangan zaman, beberapa kepercayaan sudah mulai luntur. Sedekah bumi dianggap sebagai syukuran desa, tapi acaranya tidak berbeda jauh dari zaman dulu. Yang membedakan, pada sedekah bumi yang sekarang disertai do’a-do’a Islami. Namun demikian, masih banyak masyarakat yang mempunyai kepercayaan sama dengan awal mula sedekah bumi dilaksanakan.
Kapan pertama kali sedekah bumi dilaksanakan tidak jelas diketahui. Budaya ini sudah berlangsung secara turun-temurun dan mengakar di masyarakat, meskipun banyak kepercayaan atau agama baru yang berkembang. Esensi dari upacara sedekah bumi itu pun tidak berubah. Upacara sedekah bumi seolah-olah menjadi upacara wajib yang dilaksanakan.


B. PENYELENGGARAAN UPACARA SEDEKAH BUMI

1. Tempat Penyelengaraan
Upacara sedekah bumi di desa Sendangasri (dukuh Bendan) dilaksanakan di punden yang dipercaya oleh masyarakat setempat sebagai rumah Dayang Mbah Timbul.
Di punden tersebut terdapat tempat-tempat yang berupa.
a. Kuburan kuno, yang merupakan kuburan Danyang Mbah Timbul (yang disebut punden)
b. Pohon besar, yang dipercaya oleh masyarakat setempat dihuni oleh Danyang Mbah Timbul. Pohon besar ini dikeramatkan dan digunakan untuk meletakkan sesaji.
c. Plataran (halaman), yang digunakan sebagai tempat pertunjukkan kethoprak atau wayang kulit dan digunakan sebagai tempat berebutan ancak dalam upacara sedekah bumi.
d. Balai besar, yang digunakan sebagai dapur umum serta tempat untuk mempersiapkan segala kebutuhan makanan dalam acara sedekah bumi. Balai besar ini berbentuk seperti rumah tanpa dinding dan hanya terdiri dari satu ruangan.

2.Waktu Penyelenggaraan
Tradisi sedekah bumi di desa Sendangasri dilaksanakan setiap tahun setelah selesai panen. Tepatnya pada hari Minggu pahing, karena menurut kepercayaan masyarakat setempat, hari Minggu pahing merupakan hari yang tepat untuk menyelenggarakan upacara sedekah bumi dan hari yang dikeramatkan oleh warga setempat. Sedekah bumi tahun ini diselenggarakan pada hari Minggu Pahing tanggal 4 Mei 2008.




Alasan sedekah bumi dilaksanakan setelah panen.
a. Alasan Ekonomi
Biaya yang diperlukan untuk melaksanakan upacara sedekah bumi sangat banyak, apabila dilaksanakan setelah panen maka warga desa Sendangasri merasa tidak merasa keberatan karena kondisi keuangan mereka masih dalam keadaan bagus.
b. Pelaksanaan sedekah bumi setelah panen dimaksudkan supaya usaha bertani di musim berikutnya dapat terlaksana lebih bik dan hasil panennya lebih memuaskan dari panen sebelumnya.
c. Sebagai bentuk rasa syukur karena panen telah berhasil

3.Persiapan Pelaksanaan
Sebelum diadakannya sedekah bumi, diperlukan persiapan-persipan yang bertujuan agar upacara tersebut berjalan dengan lancar. Hal yang utama dibuat adalah ancak. Untuk tahun ini, sedekah bumi di dukuh Bendan membuat 9 ancak. Perincinnya adalah setiap RT membuat 2 ancak. Di Bendan ada 4 RT sehingga ancak yang dibuat berjumlah 8, sementara 1 ancak dibuat oleh para pemuda.
Ancak berbentuk seperti meja, dengan panjang ±80cm, lebar ±70cm dan tinggi ±1 m, ancak ini berbentuk menyerupai rak yang tersusun atas dua tingkat. Setiap ancak atasnya dihias dengan hiasan yang unik. Untuk tahun ini ancak-ancak dibuat dengan model hiasan pesawat, bakul jamu, raja naga, buta ijo, kapal dhampo awang. Di atas hiasan-hiasan tersebut diletakkan jajanan anak-anak yang beraneka ragam. Fungsi dari ancak tersebut adalah.

a. Tingkat pertama
Tingkat ini digunakan sebagai tempat untuk meletakkan beraneka makanan tradisional, antara lain.

- Dumbeg
Dumbeg merupakan makanan wajib di setiap acara sedekah bumi di desa Sedangasri. Makanan ini merupkan makanan tradisional khas Rembang, terbuat dari tepung beras, gula pasir atau gula aren dan ditambahkan garam, air nira atau legen (kalau suka ditaburi buah nangka atau kelapa muda yang dipotong seperti dadu). Adonan tersebut lalu dimasukkan ke dalam daun kelapa (janur) yang telah dibentuk seperti kerucut (terompet). Agar adonan nantinya dapat terbentuk dengan baik, maka bentuk kerucut harus rapat. Dumbeg mempunyai bau yang khas karena dibungkus oleh janur.

- Gemblong
Gemblong sering disebut dengan jadah. Bahan yang digunakan untuk membuat gemblong adalah ketan, kelapa muda, dan garam. Ketiganya dicampur lalu selagi panas ditumbuk di atas keranjang yang terbuat dari daun lontar atau daun kelapa muda. Alat yang digunakan untuk menumbuk dilapisi dengan daun lontar tujunnya supaya alat tersebut tidak lengket dengan ketan. Ketan yang sudah ditumbuk dicetak berbentuk persegi dan dibungkus dengan daun pisang.

- Jenang Waluh
Dibuat dari buah waluh yang dicampur dengan gula aren, air nira, dan garam. Jenang waluh biasa dimakan bersama dengan jadah.

- Bugis
Dibuat dari tepung ketan, gula aren, dan diisi dengan potongan kelapa yng berbentuk bulatan.
- Dll

b. Tingkat Kedua
Digunakan sebagai tempat nasi beserta lauk pauknya.



4. Pelaksanaan Upacara Sedekah Bumi
Seiring dengan berjalannya waktu, upacara sedekah bumi di Desa Sendangasri mengalami perubahan, namun esensi dan makna dari sedekah bumi itu tetap sama. Sekarang ini upacara sedekah bumi tidak hanya diikuti oleh warga Desa Sendangsri, namun juga oleh masyarakat di luar desa. Tujuan kedatangan mereka adalah untuk mendapatkan ambeng yang dipercaya dapat membawa berkah.
Dahulu ancak yang telah dibuat langsung dikumpulkan di punden dan upacara sedekah bumi dimulai. Untuk saat ini, ancak yang telah dibuat dikumpulkan di punden kemudian diarak keliling kampung (seperti karnaval agustusan) arak-arakan sangat ramai karena disertai dengan gamelan, kenthongan, dan lain-lain. Saat berkeliling desa itulah, ancak yang berbentuk buta ijo mengambil ampau yang diletakkan di depan rumah warga.
Setelah ancak diarak keliling desa, ancak dikumpulkan kembali di punden kemudian, didoakan oleh salah seorang tokoh agama di Desa Sendangasri, setelah didoakan ancak kemudian diperebutkan. Saat perebutan berlangsung warga Sendangasri cenderung mengalah dan lebih mengutamakan penduduk dari luar desa, karena salah satu tujuan dari sedekah bumi adalah untuk bersedekah. Masyarakat Sendangasri percaya semakin banyak ancak yang roboh maka semakin banyak rejeki yang akan datang di panen berikutnya.
Namun ada yang disayangkan dalam upacara tersebut yaitu banyak makanan yang mubazir, karena saat perebutan ancak banyak makanan yang jatuh ke tanah dan diinjak-injak.
Acara sedekah bumi berakhir dengan pertunjukkan wayang kulit atau kethoprak selama sehari semalam untuk tahun ini pertunjukkannya adalah kethoprak dan campur sari. Hal yang menarik pada saat upacara sedekah bumi suasana di desa tersebut ramai seperti hari raya. Warga setempat memakai pakaian baru, mereka percaya bahwa dengan memakai pakaian baru maka jiwa mereka akan bersih.


5. Larangan-Larangan
Hal yang dilarang dalam upacara sedekah bumi adalah para pengunjung dilarang merusak ancak yang telah dihias atau mengambil makanan walau hanya sedikit sebelum ancak didoakan.

C. HUBUNGAN UPACARA SEDEKAH BUMI DI DESA SENDANGASRI DENGAN RELIGIUS (HINDU KUNO) DAN ALAM PIKIRAN TERHADAP BENDA SAKRAL

Upacara sedekah bumi di Desa Sendangasri berpengaruh timbal balik dengan kepercayaan masyarakat terhadap benda sakral seperti punden dan pohon.
Keyakinan masyarakat kepada para dewa yang diimplikasikan terhadap Danyang yang sudah berbaur dengan kepercayaan animisme dan dinamisme tercermin dalam suatu sikap dan tingkah laku masyarakat baik secara individu maupun kelompok, mengingat sudah meluasnya pengaruh agama Islam di Desa Sendangasri. Sikap dan tingkah laku masyarakat yang seolah-olah melembaga dan dilakukan secara rutin pada saat tertentu misalnya pemberian sesaji tidak pernah ditinggalkan dalam upacara sedekah bumi.
Disisi lain, sedekah bumi secara religi telah memberi rangsangan dan dorongan kepada masyarakat untuk meningkatkan keyakinan mereka baik terhadap kepercayaan, keselamatan, kesejahteran, kepuasan batin maupun keyakinan terhadap Tuhan. Dengan demikian, secara timbal balik upacara sedekah bumi yang dilaksanakan setahun sekali oleh masyarakat di Desa Sendangasri berpengaruh terhadap keyakinan masyarakat, kesakralan benda dan segala tata upacara yang dilaksanakan dalam upacara sedekah bumi.

1 komentar: